Tak
Pernah Menjadi Kita
Katarina Danna Kharisma Apriliony
Embun
pagi mulai pudar terhapuskan oleh sinar mentari. Kicauan burung bersautan
menyapaku dipagi ini. Dengusan angin lirih membelai rambut hitam lurusku, dan
mengeringkan sisa air mata yang terjatuh dari mata hitamku. Aku kembali
terbaring diatas kasurku, menatap langit - langit kamar ditengah waktu sibuk
kota. Masih terasa jelas apa yang terjadi semalam. Iya. Patah hati terdalam
itu. Banyak orang berpikir bahwa cinta itu sangat indah,
tapi aku tidak pernah paham apa sebenarnya itu cinta ? menurutku cinta itu
menyakitkan dan tidak pernah berakhir bahagia. Setiap kali aku ingin merasakan
apa itu cinta, yang ku rasakan hanya sakit hati yang tak kunjung henti. Seperti
kisahku bersama Nicole, kata orang cinta itu butuh perjuangan dan pengorbanan.
Karena cewek menilai keseriusan seorang cowok dari pejuangannya. Sudah rela
jadi gojek tiap saat, jadi gofood tiap waktu, jadi orang sok romantis dihadapan
dia, tapi sama aja ujungnya cuma harapan palsu, hanya di akhiri dengan
kata-kata manis dimalam yang gelap kemarin "kita temenan aja ya, rasanya
aku masih ga cocok deh sama kamu, lagi pula aku ga boleh pacaran sama mama
aku". Aku hanya terdiam meskipun dalam hati pengen teriak sial!! Aku udah
ngorbanin banyak hal buat lo ! dan dengan enaknya kaya gini ?! kenapa awalnya iya
kalo akhirnya engga!! “ Okeh, aku pulang dulu ya “ pamitku pada Nicole. Nicole
mulai gusar, “ Kamu gapapa kan ? “, aku hanya tersenyum, dan bertanya dalam
diriku. Setelah aku mengalami patah hati yang terdalam ini, apakah aku masih
bisa dikatakan baik-baik saja ?. “ Aku gapapa kok “ jawabku kemudian perlahan
pergi.
Aku
duduk terdiam di teras rumah, melihat awan yang gelap tanpa bintang, hanya
nampak bulan yang bersinar redup seolah mencerminkan perasaanku saat ini. Angin
malam menusuk ragaku, membuat hati ini terasa semakin teriris-iris, aku tidak
kuat membendung air mata ini, meskipun kata the luckylucky “ laki-laki gak
boleh nangis, harus selalu kuat dan, harus selalu tangguh” tapi cinta menentang
segalanya. aku mulai lelah dengan apa yang namanya cinta. Teringat seketika
kejadian 5 tahun yang lalu tepat waktu aku duduk di kelas 7. Bu Wiwin guru
bahasa Indonesiaku dulu, sempat pernah bertanya “ siapa disini yang tidak
pernah merasakan cinta ? “ dan dengan polosnya dulu aku angkat tangan. Ternyata
hal itu memang aku rasakan sampai sekarang, aku tidak pernah benar-benar
merasakan apa itu cinta yang indah.
Aku
mulai menjalani hariku yang baru, berusaha membuang bayangan-bayangan Nicole
dari pikiranku. "Woi Cho! Ngapain ngelamun aja !“ tiba-tiba Mike menghampiri.
belum sempat ngejawab, bola itu udah melayang tepat dimukaku dan semua menjadi
gelap, perlahan mata ini terbuka kembali, berat sih rasanya tapi didepan mata
ada sosok yang membuaku terpaku. “ Hei! Gimana cho ? udah sadar dari pingsannya
? “ tanya cewek berambut sebahu itu, “ Udah, kok kamu tau sih nama ku ?
ngomong-ngomong kamu siapa ?“. “ Kenalin aku Vita anak PMR disini, dan kelas
XI-IPA kalau kamu Marcho anak XII-IPS kan? “. Jawabnya sambil ngecek detak nadi
tanganku. “ Kamu udah gapapa kok detak nadimu juga udah normal, aku pergi ya
kalo gitu “. “ Jangan, jangan pergi aku ga bisa tanpa kamu ? “ ucapku lirih
dengan melihat dia perlahan pergi. Aku gak pernah percaya kalau cinta pada
pandangan pertama itu ada dan ternyata sekarang aku alami sendiri.
Kemudian
setelah dia pergi, aku langsung bangkit berdiri dan berusaha untuk mencari
dimana cewek itu. Tempat yang pertama kali aku tuju adalah kelasnya, tetapi
saat aku tiba dikelasnya aku tidak menemukan sosok dirinya. Mungkin karena itu
jam istirahat, bisa saja dia keluar kelas untuk pergi ke kantin. Tapi
sebelumnya aku bertanya dulu kepada teman sekelasnya, tetapi tidak ada satupun
teman kelasnya yang tau, dimana dia berada. Oleh karena itu, aku langsung
menuju ke kantin, siapa tau saja dia ada disana. Saat tiba di kantin, aku
senang saat melihat ternyata memang benar, dia berada di kantin dan tepat lurus
didepan mataku, tapi saat aku mulai mendekat, aku melihat seorang cowok yang
sedang duduk disebelahnya, siapa sebenarnya cowok itu? kenapa mereka berlaku
sangat manis? tertawa lepas berdua seolah dunia hanya milik mereka berdua.
kalau menurut analisaku dia adalah pacar Vita. Iya benar! pacar Vita, dia sudah
milik orang lain, dan tak mungkin cowok pendek berkulit sawo matang sepertiku
ini, bisa menyaingi cowok tampan tinggi seperti pacar Vita. Disitu aku
berpikir, apakah mungkin kali ini aku gagal lagi dalam urusan cinta? ketika aku
yakin dan mulai menemukan cinta yang baru, kenapa cinta baruku itu milik orang lain ?.
Mungkin
memang cinta tidak pernah tercipta untukku. terkadang aku iri dengan orang lain
yang dengan mudah bisa menemukan cinta. Sedangkan diriku disini, terasa sangat
sulit untuk menemukan bahkan merasakan apa itu cinta, disaat aku mulai
menemukan cinta yang baru, selalu saja ada halangan yang menghadang. Iya pupus
begitu saja. Atau mungkin dibalik masalah ini terdapat rencana baik Tuhan, agar
aku bisa bertemu dengan seseorang yang benar-benar tepat, tanpa harus merasakan
namanya sakit hati karena putus cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar