Halaman

Jumat, 20 November 2015

Tak Pernah Menjadi Kita

Tak Pernah Menjadi Kita
Katarina Danna Kharisma Apriliony

Embun pagi mulai pudar terhapuskan oleh sinar mentari. Kicauan burung bersautan menyapaku dipagi ini. Dengusan angin lirih membelai rambut hitam lurusku, dan mengeringkan sisa air mata yang terjatuh dari mata hitamku. Aku kembali terbaring diatas kasurku, menatap langit - langit kamar ditengah waktu sibuk kota. Masih terasa jelas apa yang terjadi semalam. Iya. Patah hati terdalam itu. Banyak orang berpikir bahwa cinta itu sangat indah, tapi aku tidak pernah paham apa sebenarnya itu cinta ? menurutku cinta itu menyakitkan dan tidak pernah berakhir bahagia. Setiap kali aku ingin merasakan apa itu cinta, yang ku rasakan hanya sakit hati yang tak kunjung henti. Seperti kisahku bersama Nicole, kata orang cinta itu butuh perjuangan dan pengorbanan. Karena cewek menilai keseriusan seorang cowok dari pejuangannya. Sudah rela jadi gojek tiap saat, jadi gofood tiap waktu, jadi orang sok romantis dihadapan dia, tapi sama aja ujungnya cuma harapan palsu, hanya di akhiri dengan kata-kata manis dimalam yang gelap kemarin "kita temenan aja ya, rasanya aku masih ga cocok deh sama kamu, lagi pula aku ga boleh pacaran sama mama aku". Aku hanya terdiam meskipun dalam hati pengen teriak sial!! Aku udah ngorbanin banyak hal buat lo ! dan dengan enaknya kaya gini ?! kenapa awalnya iya kalo akhirnya engga!! “ Okeh, aku pulang dulu ya “ pamitku pada Nicole. Nicole mulai gusar, “ Kamu gapapa kan ? “, aku hanya tersenyum, dan bertanya dalam diriku. Setelah aku mengalami patah hati yang terdalam ini, apakah aku masih bisa dikatakan baik-baik saja ?. “ Aku gapapa kok “ jawabku kemudian perlahan pergi.
Aku duduk terdiam di teras rumah, melihat awan yang gelap tanpa bintang, hanya nampak bulan yang bersinar redup seolah mencerminkan perasaanku saat ini. Angin malam menusuk ragaku, membuat hati ini terasa semakin teriris-iris, aku tidak kuat membendung air mata ini, meskipun kata the luckylucky “ laki-laki gak boleh nangis, harus selalu kuat dan, harus selalu tangguh” tapi cinta menentang segalanya. aku mulai lelah dengan apa yang namanya cinta. Teringat seketika kejadian 5 tahun yang lalu tepat waktu aku duduk di kelas 7. Bu Wiwin guru bahasa Indonesiaku dulu, sempat pernah bertanya “ siapa disini yang tidak pernah merasakan cinta ? “ dan dengan polosnya dulu aku angkat tangan. Ternyata hal itu memang aku rasakan sampai sekarang, aku tidak pernah benar-benar merasakan apa itu cinta yang indah.

Aku mulai menjalani hariku yang baru, berusaha membuang bayangan-bayangan Nicole dari pikiranku. "Woi Cho! Ngapain ngelamun aja !“ tiba-tiba Mike menghampiri. belum sempat ngejawab, bola itu udah melayang tepat dimukaku dan semua menjadi gelap, perlahan mata ini terbuka kembali, berat sih rasanya tapi didepan mata ada sosok yang membuaku terpaku. “ Hei! Gimana cho ? udah sadar dari pingsannya ? “ tanya cewek berambut sebahu itu, “ Udah, kok kamu tau sih nama ku ? ngomong-ngomong kamu siapa ?“. “ Kenalin aku Vita anak PMR disini, dan kelas XI-IPA kalau kamu Marcho anak XII-IPS kan? “. Jawabnya sambil ngecek detak nadi tanganku. “ Kamu udah gapapa kok detak nadimu juga udah normal, aku pergi ya kalo gitu “. “ Jangan, jangan pergi aku ga bisa tanpa kamu ? “ ucapku lirih dengan melihat dia perlahan pergi. Aku gak pernah percaya kalau cinta pada pandangan pertama itu ada dan ternyata sekarang aku alami sendiri.

Kemudian setelah dia pergi, aku langsung bangkit berdiri dan berusaha untuk mencari dimana cewek itu. Tempat yang pertama kali aku tuju adalah kelasnya, tetapi saat aku tiba dikelasnya aku tidak menemukan sosok dirinya. Mungkin karena itu jam istirahat, bisa saja dia keluar kelas untuk pergi ke kantin. Tapi sebelumnya aku bertanya dulu kepada teman sekelasnya, tetapi tidak ada satupun teman kelasnya yang tau, dimana dia berada. Oleh karena itu, aku langsung menuju ke kantin, siapa tau saja dia ada disana. Saat tiba di kantin, aku senang saat melihat ternyata memang benar, dia berada di kantin dan tepat lurus didepan mataku, tapi saat aku mulai mendekat, aku melihat seorang cowok yang sedang duduk disebelahnya, siapa sebenarnya cowok itu? kenapa mereka berlaku sangat manis? tertawa lepas berdua seolah dunia hanya milik mereka berdua. kalau menurut analisaku dia adalah pacar Vita. Iya benar! pacar Vita, dia sudah milik orang lain, dan tak mungkin cowok pendek berkulit sawo matang sepertiku ini, bisa menyaingi cowok tampan tinggi seperti pacar Vita. Disitu aku berpikir, apakah mungkin kali ini aku gagal lagi dalam urusan cinta? ketika aku yakin dan mulai menemukan cinta yang baru, kenapa cinta baruku itu  milik orang lain ?.


Mungkin memang cinta tidak pernah tercipta untukku. terkadang aku iri dengan orang lain yang dengan mudah bisa menemukan cinta. Sedangkan diriku disini, terasa sangat sulit untuk menemukan bahkan merasakan apa itu cinta, disaat aku mulai menemukan cinta yang baru, selalu saja ada halangan yang menghadang. Iya pupus begitu saja. Atau mungkin dibalik masalah ini terdapat rencana baik Tuhan, agar aku bisa bertemu dengan seseorang yang benar-benar tepat, tanpa harus merasakan namanya sakit hati karena putus cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar