Halaman

Senin, 30 November 2015

MY FIRST LOVE DILEMA


''MY FIRST LOVE DILEMA''

Siapa yang tak kenal sosok evelyn? Evelyn adalah sosok siswi idaman disekolahnya. Ia memiliki postur tubuh bak seorang pramugari, disamping itu ia juga memiliki ciri fisik yang mendukung penampilannya. Evelyn memiliki kulit yang putih, mata belo, hidung mancung, serta rambut panjang lurus yang indah. Disamping itu evelyn juga memiliki kepribadian yang baik. Tak salah jika ia memiliki banyak teman, dan menjadi wanita idaman disekolah.
Banyak sekali teman lawan jenisnya yang ingin lebih mengenal sosok evelyn, tetapi masih belum ada yang membekas dihati evelyn. Hingga evelyn bertemu dengan leon, yang mampu menggoreskan sebuah kesan mendalam saat pertama kali bertemu. Evelyn bertemu dengan leon saat dikantin, leon tak sengaja menumpahkan minuman diseragam evelyn. "aduhh maaf, aku tidak sengaja" kata leon dengan nada menyesal. "tidak apa-apa, ini bisa dibersihkan kok. Hanya noda kecil" kata evelyn santai, disertai seulas senyum dibibirnya. "sorry banget ya, aku gak sengaja tadi. kalau nodanya susah hilang besok kasih bajunya ke aku aja ya evelyn*sambil liat nametag diseragam evelyn* dikelas 12 ipa 3, biar aku laundry " kata leon dengan nada menyesal sambil menawarkan untuk melaundrykan baju evelyn. "oo gausa repot-repot kak, kan sudah kubilang ini hanya noda kecil. Dicuci pasti nodanya sudah hilang kok kak, hihihi. Hmm aku balik kelas duluan ya kak, mari" kata evelyn lembut disertai ulasan senyum. "oo iya iya" kata leon.
Sejak tragedi itu, jika mereka bertemu mereka selalu memberikan sebuah senyuman atau saling sapa "say Hello". Lalu, tak lama kemudian mereka akrab. Saling bertukar kontak. Dan chattingan.
Tak lama perkenalan yang tak disangka dan singkat itu saling mendekatkan mereka, yang dulunya tak pernah mengenal menjadi saling mengenal satu sama lain. Serta selalu memberikan kabar satu sama lain. Evelyn merasakan perasaan nyaman, nyaman jika bersama leon. Tapi tak tau apakah leon juga merasakan hal yang sama dengan evelyn? Saling merasakan perasaan nyaman itu.
Hari-hari mereka berlalu dengan indah. Hingga akhirnya leon juga dekat dengan sosok wanita lain. Wanita itu sepantaran dengan leon, tidak seperti evelyn yang hanya adik kelas. Evelyn mulai merasakan perasaan cemburu. Perhatian leon juga sudah mulai berkurang kepada evelyn. Rela tak rela, mau tak mau, evelyn harus merelakan membagi perhatian leon untuk wanita itu. Evelyn sadar jika ia tak berhak marah ataupun protes ke leon jika perhatiannya berkurang, karna evelyn bukan siapa-siapa leon.
Evelyn bimbang dengan perasaan yang ia rasakan kepada leon. Ia mencoba mencurahkan segala isi hatinya kepada leon. Evelyn juga memberikan pilihan untuk leon, leon harus memilih salah satu diantara kedua wanita ini. Leon pun bimbang, ia tak bisa memilih salah satu diantara kedua wanita tersebut. Leon sama-sama merasakan nyaman jika dekat dengan kedua wanita itu. Leon juga memberitau kepada evelyn, jika ia akan melanjutkan program studynya diluar negeri, amerika.
Evelyn bingung, apa yang harus ia lakukan. Ia tak mau jika hubungannya menggantung, diambang ketidakpastian. Disisi lain ia juga sedih, jika leon harus pergi meninggalkan indonesia dan dirinya untuk melanjutkan program studynya. Evelyn tau,ini pilihan leon, ini impian leon yaitu study di amerika. Dengan berat hati, evelyn mulai menjauhi leon secara perlahan. Ia tak mau terlalu merasakan rasa sakit jika harus ditinggalkan oleh leon.
Hubungan mereka pun tak seakrab yang lalu. Leon tau ini pilihan evelyn, dengan berat hati leon menghargai keputusan evelyn untuk menjaga jarak dengannya. Leon juga tak ingin jika evelyn merasakan rasa sakit yang begitu mendalam jika ia pergi meninggalkan evelyn. Sejak saat itu mereka sudah jarang chattingan, memberikan kabar, serta jarang mengucapkan "say Hello". Mereka seperti tak pernah mengenal satu sama lain. Mereka merasakan ada rasa canggung diantara mereka jika mereka bertemu.
Hingga saat-saat menyedihkan itu tiba. Detik-detik dimana leon harus meninggalkan evelyn. Evelyn pun ikut keluarga leon untuk mengantarkan leon ke bandara. Evelyn diam seribu bahasa, tak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir evelyn. "lyn.. Aku tau kamu marah sama aku. Aku juga gak bisa ngelarang kalau kamu marah sama aku, itu hak kamu. Tapi mau sampe kapan kamu kayak gini? Diem seribu bahasa. Yaudalah, aku cuma mau bilang makasih ke kamu, untuk semuanya yang pernah kita lakuin bersama. Aku tau ini semua gak adil bagi kamu. Tapi gimana lagi, ini mimpi aku, aku pingin ngelanjutin studyku diluar. Trus untuk perasaan yang lalu, aku tetep merasaakan perasaan yang sama, perasaan aku ke kamu gak akan berubah. Kamu yang rajin juga, sekarang udah kelas 12 harus lebih rajin lagi, gak boleh nakal" kata leon ke evelyn sambil memeluk evelyn. Evelyn tetep gabisa berkata apa-apa, seketika ia jatuh dalam pelukan leon. Hanya cucuran air mata evelyn yang mampu mengartikan perasaan evelyn sekarang. Ia tak mau lepas dari pelukan leon. "udah sampe kapan kamu mau nangis terus? Sini.." kata leon lembut sambil melayangkan ciuman dikening evelyn. "udah jangan nangis lagi, ntar tambah jelek loh. Hmm aku pergi dulu ya, jaga diri kamu baik-baik daaa..." kata leon lembut kepada evelyn lalu pergi meninggalkan evelyn dan keluarganya.
Sejak saat itu, evelyn sadar bahwa sebenarnya leon juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Hubungan leon dengan wanita itu hanya sebatas teman gak lebih, rasa sayang leon hanya untuk evelyn seorang. Jarak tidak dapat memisahkan mereka berdua. Karna, kunci hubungan jarak jauh hanyalah kepercayaan dan komunikasi. Evelyn dan leon tetap menjaga hubungan dengan menyempatkan untuk chatting ataupun telepon.





Yemima Aprilia U
XXI IPS I / 30


Tidak ada komentar:

Posting Komentar