Halaman

Sabtu, 21 November 2015

Misteri Hilangnya Buku Sejarah

Misteri Hilangnya Buku Sejarah

Bel pulang sekolah berbunyi. Ketua kelas menyiapkan murid-murid X-2 untuk segera berdoa. Setelah berdoa dengan hikmat, mereka berhamburan untuk segera keluar kelas. Namun tidak dengan Zaza. Gadis berambut lurus ini masih mondar-mandir di kelas. Ribka, sahabat Zaza, yang menyadari hal itu, kembali masuk kelas dan menanyakan kenapa perempuan berumur tujuh belas tahun ini masih di sana.
“Za, kenapa masih di sana?” tanya Ribka seduktif. Dilihatnya Zaza yang mondar-mondir seperti setrika itu sedang mencari sesuatu.
“Ini Rib, buku paket sejarahku kok nggak ada ya? Padahal tadi terakhir aku lihat ada di atas mejaku,” ujar Zaza masih mondar-mandir mengitari seluruh meja maupun kolong meja yang ada di dalam ruang kelas X-2. Berharap buku biru yang berisi seluruh materi Sejarah itu akan segera ditemukan.
“Emang tadi kamu naruhnya di mana?” tanya Ribka mulai ikut mencari buku materi itu.“Di mejaku. Tadi aku lihat sendiri. Jelas-jelas masih di meja. Tapi habis beres-beres tas, eh.. bukunya udah nggak ada,” ucap gadis berhidung mancung itu dengan cemas.
“Eh? Tadi kamu sama Michelle duduk di depanku, kan? Coba deh kamu periksa tasnya Michelle barangkali nyangkut di sana,” tambah Ribka.“Michelle kan tadi udah keluar duluan sama Febe. Kayaknya juga nggak mungkin deh kalau nyangkut di tasnya dia,” ucap Zaza yang semakin panik karena sudah lewat 15 menit dari jam pulang sekolah. Bisa-bisa dia ditinggal oleh antarjemputnya jika tak kunjung keluar.“Coba deh, di tas kamu. Mungkin udah kamu masukin tadi, ” kata Ribka.
“Tapi aku yakin banget, buku itu ditaruh di meja. Aduhh… gimana nih. Mana besok ulangan lagi,” rengek Zaza. Ribka merasa jengah. “Oh iya.. Febe di mana, mungkin dia yang salah masukin buku.” tambah Zaza.
Ribka langsung bergerak menuju keluar kelas tanpa mengeluarkan satu katapun untuk mencari Febe. Ia melakukan ini karena kasihan dengan sahabatnya, Zaza, apabila buku itu tak kunjung ditemukan, otomatis Zaza tidak akan segera pulang dan ditinggal oleh antarjemputnya.
Tak lama Ribkadatang bersama Michelle dan Febe, yang kebetulan masih ikut ngerumpi di kelas sebelah. Memang masih banyak anak di kelas sebelah, jadilah Michelle dan Febe ikut nimbrung di sana. Dan itu memudahkan Ribka dalam mencari batang hidung kedua siswi tersebut. “Ada apa, Rib?” Tanya Michelle pada Ratih yang tiba-tiba menyeretnya bersama Febe kembali ke kelas X-2.
“Ini Chelle, Feb, buku paket sejarah milik Zaza hilang. Padahal udah ditaruh di meja. Tapi katanya, tiba-tiba nggak ada,” ujar Ribka menjelaskan.“Emangnya kamu taruh di mana Za?” tanya Febe seduktif. Namun Ribka yang malah menjawabnya, “di meja, Febe! Kan aku udah bilang tadi,” jawab Ribka dengan nada kesal.
“Aku tanya ke Zaza tahu.” celoteh Febe langsung membuat Ribka nyengir.“Udah, udah. Terus, kita kesini buat apa?” potong Michelle pada ketiganya.“Gini, mungkin kalian salah masukin buku itu ke tas kalian. Coba periksa, deh, barangkali emang ada di tas kalian,” kata Zaza.“Di tas aku nggak mungkin ada, soalnya aku hari ini nggak bawa buku paket sama sekali,” jawab Febe santai.
     “Masa, sih? Coba periksa lagi aja,” ujar Zaza. Membuat Michelle dan Febe memeriksa tas mereka dengan teliti.“Nggak ada, Za,” jawab Michelle. “Aku juga nggak ada nih. Ini buku paket sejarah, tapi punya Tata soalnya tadi aku pinjam biar nggak kena marah sama Pak Danang. Tuh lihat namanya,” tambah Febe sambil menunjukkan buku paket sejarah milik anak kelas sebelah bernama Tata.
“Iya, ini punya Tata. Aduh… terus gimana nih. Masa bisa hilang gitu aja tanpa jejak?” rengekgadis berkulit kuning itu.“Coba deh, kamu periksa tas kamu sendiri, Za. Mungkin kamu yang lupa udah dimasukin di dalam tas,” kata Michelle disertai anggukan kecil dari Ribka dan Febe. Zazapun memeriksa tasnya dengan teliti. Tak ada satu pun biji buku yang terlewatkan.
Setelah beberapa saat mencari, Zaza tercengang. Ia melihat buku paket sejarah yang sedari tadi dicarinya ternyata ada di dalam tasnya sejak tadi. Zaza langsungmelonjak kegirangan. Membuat ketiga teman yang ada di hadapannya menatapnya aneh. “Yeay!!! Bukunya udah ketemu, nih. Ternyata nggak hilang. Yeay!!!” Kata Zaza berhasil membuat Ribka, Michelle, dan Febe mengernyitkan dahi, kemudian memasang wajah ditekuk tiga kali lipat.
“Za, lapangan luas loh. Gimana kalau kita adu jotos di sana,” celetuk Febe memasang wajah ditekuk seupuluh kali lipat dari biasanya. Perkataannya malah membuat Zaza nyengir nggak jelas.“Hehehe… maaf kawan. Jangan marah, dong. Hehehe.” celetuk Zaza membuat ketiga perempuan di hadapannya memutar bola mata mereka.
“Jadi nggak hilang, kan, Za. Kalo gitu aku mau pulang sekarang,” ujar Michelle memasang muka kesal yang dibuat-buat.“Hehehe… maaf, deh Rib, Chelle, Feb, aku nggak tahu ternyata aku udah masukin buku itu ke tas. Hehehe.” pungkas Zaza sambil nyengir.
“Makanya kalau memeriksa sesuatu itu harus teliti, jadi kita nggak repot kayak gini deh. Pake ngeyel lagi,” ujar Michelle masih memasang wajah kesal. Pantas saja, karena kehebohan Zazalah yang membuatnya harus memotong acara ikut ngerumpi bareng di kelas sebelah.“Hehehe… maaf, deh, teman-teman. Aku nggak bakal nyusahin lagi, deh. Suer!” ucap Zaza sambil nyengir sehingga behel yang ia gunakan terlihat dengan jelas.
“Iya udah deh, sekarang pulang yuk. Lagian udah jam segini. Nanti kamu ditinggal sama om anjemmu lagi, Za,” ajak Ribka.“Oke, ayo!” jawab Zazadengan ceria dan antusias. Begitu juga Michelle dan Febe yang antusias pulang bersama keduanya. Jarang-jarang mereka berempat pulang bersama seperti saat ini. Karena apa? Karena kejadian itulah yang membuat keempat sahabat itu semakin akrab.
Zaza dan ketiga kawannya sedang berjalan bersama menuju ke keluar sekolah. Keadaan semakin hangat dikala candaan dan tawaan tercipta di antara mereka. Namun tiba-tiba Zaza terlihat panik sambil mengatakan sesuatu. Yang membuat ketiga sahabatnya diam dan menatapnya kebingungan.“Loh… tunggu.. tadi pas aku periksa tas, kok buku paket matemtikaku nggak ada ya. Di mana, nih?” tanya Zaza cemas sambil mengubek-ubek tasnya. Runtukan Zaza berhasil membuat ketiga temannya kembali memutar bola matanya malas.“Emang kita pikirin!!!!” ucap Ribka, Michelle, dan Febe serempak. Membuat Zaza menekuk wajahnya tiga kali lipat.Namun semenit kemudian, keempatnya tertawa bersama. Bahkan tertawa sampai berbahak-bahak.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar