Misteri
Hilangnya Buku Sejarah
Bel
pulang sekolah berbunyi. Ketua kelas menyiapkan murid-murid X-2 untuk segera
berdoa. Setelah berdoa dengan hikmat, mereka berhamburan untuk segera keluar
kelas. Namun tidak dengan Zaza. Gadis berambut lurus ini masih mondar-mandir di
kelas. Ribka, sahabat Zaza, yang menyadari hal itu, kembali masuk kelas dan
menanyakan kenapa perempuan berumur tujuh belas tahun ini masih di sana.
“Za,
kenapa masih di sana?” tanya Ribka seduktif. Dilihatnya Zaza yang mondar-mondir
seperti setrika itu sedang mencari sesuatu.
“Ini
Rib, buku paket sejarahku kok nggak ada ya? Padahal tadi terakhir aku lihat ada
di atas mejaku,” ujar Zaza masih mondar-mandir mengitari seluruh meja maupun
kolong meja yang ada di dalam ruang kelas X-2. Berharap buku biru yang berisi
seluruh materi Sejarah itu akan segera ditemukan.
“Emang
tadi kamu naruhnya di mana?” tanya Ribka mulai ikut mencari buku materi itu.“Di
mejaku. Tadi aku lihat sendiri. Jelas-jelas masih di meja. Tapi habis
beres-beres tas, eh.. bukunya udah nggak ada,” ucap gadis berhidung mancung itu
dengan cemas.
“Eh?
Tadi kamu sama Michelle duduk di depanku, kan? Coba deh kamu periksa tasnya
Michelle barangkali nyangkut di sana,” tambah Ribka.“Michelle kan tadi udah
keluar duluan sama Febe. Kayaknya juga nggak mungkin deh kalau nyangkut di
tasnya dia,” ucap Zaza yang semakin panik karena sudah lewat 15 menit dari jam
pulang sekolah. Bisa-bisa dia ditinggal oleh antarjemputnya jika tak kunjung
keluar.“Coba deh, di tas kamu. Mungkin udah kamu masukin tadi, ” kata Ribka.
“Tapi
aku yakin banget, buku itu ditaruh di meja. Aduhh… gimana nih. Mana besok
ulangan lagi,” rengek Zaza. Ribka merasa jengah. “Oh iya.. Febe di mana,
mungkin dia yang salah masukin buku.” tambah Zaza.
Ribka
langsung bergerak menuju keluar kelas tanpa mengeluarkan satu katapun untuk
mencari Febe. Ia melakukan ini karena kasihan dengan sahabatnya, Zaza, apabila
buku itu tak kunjung ditemukan, otomatis Zaza tidak akan segera pulang dan
ditinggal oleh antarjemputnya.
Tak
lama Ribkadatang bersama Michelle dan Febe, yang kebetulan masih ikut ngerumpi
di kelas sebelah. Memang masih banyak anak di kelas sebelah, jadilah Michelle
dan Febe ikut nimbrung di sana. Dan itu memudahkan Ribka dalam mencari batang
hidung kedua siswi tersebut. “Ada apa, Rib?” Tanya Michelle pada Ratih yang
tiba-tiba menyeretnya bersama Febe kembali ke kelas X-2.
“Ini
Chelle, Feb, buku paket sejarah milik Zaza hilang. Padahal udah ditaruh di
meja. Tapi katanya, tiba-tiba nggak ada,” ujar Ribka menjelaskan.“Emangnya kamu
taruh di mana Za?” tanya Febe seduktif. Namun Ribka yang malah menjawabnya, “di
meja, Febe! Kan aku udah bilang tadi,” jawab Ribka dengan nada kesal.
“Aku
tanya ke Zaza tahu.” celoteh Febe langsung membuat Ribka nyengir.“Udah, udah. Terus,
kita kesini buat apa?” potong Michelle pada ketiganya.“Gini, mungkin kalian
salah masukin buku itu ke tas kalian. Coba periksa, deh, barangkali emang ada
di tas kalian,” kata Zaza.“Di tas aku nggak mungkin ada, soalnya aku hari ini nggak
bawa buku paket sama sekali,” jawab Febe santai.
“Masa, sih? Coba periksa lagi aja,” ujar Zaza.
Membuat Michelle dan Febe memeriksa tas mereka dengan teliti.“Nggak ada, Za,” jawab
Michelle. “Aku juga nggak ada nih. Ini buku paket sejarah, tapi punya Tata
soalnya tadi aku pinjam biar nggak kena marah sama Pak Danang. Tuh lihat
namanya,” tambah Febe sambil menunjukkan buku paket sejarah milik anak kelas
sebelah bernama Tata.
“Iya,
ini punya Tata. Aduh… terus gimana nih. Masa bisa hilang gitu aja tanpa jejak?”
rengekgadis berkulit kuning itu.“Coba deh, kamu periksa tas kamu sendiri, Za.
Mungkin kamu yang lupa udah dimasukin di dalam tas,” kata Michelle disertai
anggukan kecil dari Ribka dan Febe. Zazapun memeriksa tasnya dengan teliti. Tak
ada satu pun biji buku yang terlewatkan.
Setelah
beberapa saat mencari, Zaza tercengang. Ia melihat buku paket sejarah yang
sedari tadi dicarinya ternyata ada di dalam tasnya sejak tadi. Zaza
langsungmelonjak kegirangan. Membuat ketiga teman yang ada di hadapannya
menatapnya aneh. “Yeay!!! Bukunya udah ketemu, nih. Ternyata nggak hilang.
Yeay!!!” Kata Zaza berhasil membuat Ribka, Michelle, dan Febe mengernyitkan
dahi, kemudian memasang wajah ditekuk tiga kali lipat.
“Za,
lapangan luas loh. Gimana kalau kita adu jotos di sana,” celetuk Febe memasang wajah
ditekuk seupuluh kali lipat dari biasanya. Perkataannya malah membuat Zaza
nyengir nggak jelas.“Hehehe… maaf kawan. Jangan marah, dong. Hehehe.” celetuk Zaza
membuat ketiga perempuan di hadapannya memutar bola mata mereka.
“Jadi
nggak hilang, kan, Za. Kalo gitu aku mau pulang sekarang,” ujar Michelle
memasang muka kesal yang dibuat-buat.“Hehehe… maaf, deh Rib, Chelle, Feb, aku
nggak tahu ternyata aku udah masukin buku itu ke tas. Hehehe.” pungkas Zaza
sambil nyengir.
“Makanya
kalau memeriksa sesuatu itu harus teliti, jadi kita nggak repot kayak gini deh.
Pake ngeyel lagi,” ujar Michelle masih memasang wajah kesal. Pantas saja,
karena kehebohan Zazalah yang membuatnya harus memotong acara ikut ngerumpi
bareng di kelas sebelah.“Hehehe… maaf, deh, teman-teman. Aku nggak bakal
nyusahin lagi, deh. Suer!” ucap Zaza sambil nyengir sehingga behel yang ia
gunakan terlihat dengan jelas.
“Iya
udah deh, sekarang pulang yuk. Lagian udah jam segini. Nanti kamu ditinggal
sama om anjemmu lagi, Za,” ajak Ribka.“Oke, ayo!” jawab Zazadengan ceria dan
antusias. Begitu juga Michelle dan Febe yang antusias pulang bersama keduanya.
Jarang-jarang mereka berempat pulang bersama seperti saat ini. Karena apa?
Karena kejadian itulah yang membuat keempat sahabat itu semakin akrab.
Zaza
dan ketiga kawannya sedang berjalan bersama menuju ke keluar sekolah. Keadaan semakin
hangat dikala candaan dan tawaan tercipta di antara mereka. Namun tiba-tiba
Zaza terlihat panik sambil mengatakan sesuatu. Yang membuat ketiga sahabatnya
diam dan menatapnya kebingungan.“Loh… tunggu.. tadi pas aku periksa tas, kok
buku paket matemtikaku nggak ada ya. Di mana, nih?” tanya Zaza cemas sambil
mengubek-ubek tasnya. Runtukan Zaza berhasil membuat ketiga temannya kembali
memutar bola matanya malas.“Emang kita pikirin!!!!” ucap
Ribka, Michelle, dan Febe serempak. Membuat Zaza menekuk wajahnya tiga kali
lipat.Namun semenit kemudian, keempatnya tertawa bersama. Bahkan tertawa sampai
berbahak-bahak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar