Halaman

Jumat, 20 November 2015

Love At School

Love at School
Oleh Valencia

Cowok berkacamata dan tinggi biasanya terlihat pendiam dan kaku, namun berbeda dengan sosok cowok yang satu ini. Ia seorang siswa SMA yang memiliki sifat kekanak-kanakan. Selain itu, Ia juga sosok cowok tembem yang periang. Ia sangat disiplin akan waktu, terlihat dari gayanya yang selalu mengenakan jam ditangan kirinya. Meskipun ia memiliki muka yang sedikit berjerawat dan badan yang sangat kurus, tetapi ia selalu terlihat percaya diri dimanapun.

Cowok itu namanya Dava, ia bukanlah sosok yang popular namun ia cukup berprestasi di bidang akademik. Sudah lama ia tertarik akan sosok Mika yang cantik, pintar dan popular. Namun, disisi lain banyak juga cowok yang mendekati Mika. Dava pun terus berusaha untuk mendekati dan menarik perhatian dari Mika, mulai dari sering menyapanya hingga menolongnya. Namun,  hubungan mereka hanya berjalan sebatas teman sekelas.Tapi, Dava tak pernah putus asa dalam mendekati Mika, meski ia pernah melihat Mika bersama cowok lain.

Hingga suatu hari saat Mika sedang ke toilet, Dava yang jahil memasukkan sebuah kertas kecil kedalam tempat alat tulis milik Mika. Kertas itu berisi nomor handphone Dava dan namanya. Sepulang sekolah, Dava selalu memandangi handphone miliknya. Ia menantikan pesan singkat dari sosok Mika. Benar saja, tak lama Dava menunggu, tiba – tiba ada sebuah SMS dari Mika. Ia menulis pesan pada Dava yang isinya, “Hai Dava, ini aku Mika teman sekelasmu, Apakah ini benar nomormu? Tadi aku mendapatkannya dari kertas kecil ditepak milikku”. Hati Dava gembira bukan main setelah menerima SMS itu, bagi nya itu adalah hal yang awalnya mustahil.

Dava terlihat kaget namun bahagia. Perasaannya campur aduk rasanya, dengan masih tegang, ia pun mulai membalas SMS itu. Ia berkata, “Hai Mika yang cantik..ehh, keceplosan. Hehe. Iya tadi aku yang menaruh itu di tepak kamu. Aku cuma ingin tanya tentang tugas dari Bu Sari. Tapi aku tidak punya nomor handphone kamu. Maaf ya diam – diam begitu”. Dava berusaha menutupi apa maksud sebenarnya ia memberikan nomor handphone itu. Tak lama, Mika pun menjawab, “Haha. Bisa saja kamu Dav memujinya. Iya nga apa-apa kok. Jadi apa yang ingin kau tanyakan nih?”.Mereka pun saling membalas SMS hingga mereka pun lebih akrab.

Dava pun terus berbincang dan bercanda lewat SMS dengan Mika. Hatinya begitu bahagia dan berbunga saat itu. Hingga malam pun mereka masih SMS an, dengan membahas berbagai hal, mereka terlihat sangat cocok satu sama lain. Mereka awalnya membahas hal – hal yang berhubungan tugas, namun lama – kelamaan, mereka mulai saling curhat tentang kehidupan mereka. Sampai mereka pun lupa waktu dan tidak menyangka bahwa itu sudah malam dan besok mereka harus bersekolah. Hingga pukul 11 malam pun mereka masih asyik SMS an, namun tak lama mereka pun tidur.

Bel masuk sekolah pun berdering, semua anak masuk ke kelasnya masing – masing. Tidak ada hal yang berubah dari biasanya, hanya saja yang cukup menarik perhatian anak lain adalah kedekatan Mika dan Dava. Mereka jadi sering mengobrol dan bercanda di kelas. Saat istirahat pun, Dava tetap menggoda Mika dengan berkata bahwa Mika sangat lama di toilet. Mika pun kaget, karena ia mengira bahwa Dava menghitungi waktunya saat di toilet. Namun sebenarnya, itu adalah cara Dava untuk menggoda Mika yang terlihat lucu saat sedang kaget.

“Kring..Kring..Kring” Bel pulang sekolah berbunyi. Semua anak bersiap untuk pulang, tak terkecuali Dava dan Mika. Mereka keluar sekolah bersama, namun hal yang kembali mengagetkan Dava adalah Mika pulang bersama cowok lain lagi. Cowok yang sama sepertiyang dulu ia lihat itu, kini ia membonceng Mika dengan motor berwarna putih itu. Dava terlihat galau, ia marah namun ia juga kecewa. Ia tak tahu apa yang ia rasakan, ia pun memilih untuk pulang.

Sesampainya di rumah, Dava membuka handphonenya dan disana ada sebuah SMS dari Mika. Yang isinya meminta maaf karena ia pulang dahulu dan tidak pamit, Mika juga menjelaskan bahwa lelaki itu adalah kakak sepupunya. Dava pun tersenyum lega, namun ada yang mengganjal di hatinya. Ia pun menulis sebuah pesan pada Mika, “Iya Mik, tidak apa kok. Lagian kenapa kamu harus repot menjelaskan? Kita kan tidak ada hubungan apapun. Kalau itu pacarmu, aku tidak apa kok. Bahkan kalau benar kamu sudah punya pacar, aku lebih baik tidak terlalu akrab denganmu lagi kan?”. Mika belum menjawab dan hampir setengah jam Dava menunggu balasan. Akhirnya Dava memutuskan untuk menelpon Mika, dan ternyata diangkat. Jantung Dava seakan berhenti berdetak saat mendengar isak tangis cewek yang ia sayangi. Mereka pun saling mengungkapkan perasaan masing – masing dan kemudian berkomitmen untuk menjalin hubungan sebagai kekasih.



= TAMAT =

Tidak ada komentar:

Posting Komentar