HARI
YANG TIDAK TERLUPAKAN
Pagi itu mentari pagi menampakkan dirinya, perlahan-lahan
naik dan menyinari bumi dengan cahaya sinarnya. Randy membuka matanya yang
sipit lalu terbangun dari tidurnya karena terpaan cahaya dari celah jendela
yang menyilaukan matanya. Ia pun terbangun dan bergegas berangkat ke sekolah.
Ketika Randy belum sampai di sekolah tiba-tiba hal yang tak terduga pun datang.
Ban motornya ternyata bocor, ia lalu mencari tempat tambal ban. Tetapi
sayangnya tidak ada tempat tambal ban disekitar situ. Randy menuntun motornya
sambil mencari tempat tambal ban. Akhirnya ia menemukan tempat tambal ban di
dekat sekolah.
Sampai ke sekolah dengan badan penuh keringat akibat
menuntun motornya, ternyata ia terlambat masuk sekolah. Dengan kesal Randy pergi
ke kantor piket untuk meminta surat ijin masuk kelas yang berarti pointnya pun
dikurangi karena telah terlambat masuk sekolah tadi.
Sesampainya di kelas “Randy selamat pagi, sudah siap
untuk remedi ulangan matematika?” Tanya Pak Puji guru matematikanya. “Emm,
belum Pak.”. Randy menjawab dengan takut, karena dia tahu hari itu remidi
matematika dan dia belum belajar sama sekali. Pada saat remidi, Randy pun hanya
bisa berpasrah karena tidak mengerti cara mengerjakannya.
Setelah pusing akibat matematika, pelajaran olah raga
dimulai. Olah raga adalah pelajaran yang ditunggu-tunggu oleh Randy. Sial nya
pelajaran olah raga kali ini melelahkan karena pelajarannya membahas tentang
kebugaran jasmani. Selesai mengikuti pelajaran pada jam istirahat Randy merasa badannya
hamper remuk karena kelelahan karena olah raga tadi. “Randy makan yuk!” kata
teman disebelahnya. “Oke, kuambil makan di dalam tas ku ya!” kata Randy.
Setelah ia mengambil makanannya dia semakin kesal karena tahu bahwa ia tidak
membawa sendok, akhirnya ia pun memutuskan makan dengan tangannya karena lelah
untuk mengambil sendok di kantin..
Hari sial tidak berhenti sampai di situ. Latihan futsal
yang di tunggu-tunggunya menjadi latihan yang panjang dan membosankan. Akibat
pelajaran kebugaran tadi badannya letih untuk bermain futsal. “Randy, main
dengan benar. Jangan seperti itu!” kata pelatihnya dengan kesal “Maaf pak.
Gara-gara kecapekan pelajaran olah raga tadi,” kata Randy membenarkan. “Jangan
cari alasan, sana keluar dari lapangan kamu diganti anak yang lain saja,” kata
pelatih dengan tegas. Randy dengan kesalnya keluar dari lapangan dan digantikan
dengan anak yang lain. Latihan futsal yang di tunggu-tunggunya tidak sesuai
harapan dan kacau balau.
Sesampainya di rumah ia pun beristirahat sejenak sebelum
mandi. Ketika hendak mandi ia dikagetkan oleh Mamanya “Randy, sini Mama mau
ngomong,” kata Mamanya. “Ada apa Ma?” jawab Randy ogah-ogahan “Randy, kan
minggu depan kamu libur, kamu bisa bantu mama? Kita akan ikut travelling ke
luar negeri kamu mau ikut?” tanya Mama dengan nada yang seperti yang tadi.” APA
TRAVEL KE LUAR NEGERI? Mama ga bohong kan?” tanya Randy dengan nada senang.
“Ngapain juga Mama bohong,” kata Mama dengan senang karena tahu reaksi anak nya
senang.
Dengan senangnya Randy pun mandi. Hari sial yang di
alaminya dari tadi pagi hingga tadi terganti dengan kejutan yang tidak terduga
olehnya. Ia pun mengambil bahwa kesialan bukan lah akhir dari segala nya.
Melainkan ada rencana Tuhan yang indah di dalamnya. Ia pun menyesal karena
mungkin saja hari sial itu bila ia syukuri maka tidak akan menjadi hari yang
sial yang pernah ada. Dan rencana indah Tuhan akan hilang akibat kemarahannya
karena kesialan yang satu-satu muncul di depannya.
Dibuat oleh Yulishia
Prasetio
Kelas/No: XII IPS 1/ 31
Tidak ada komentar:
Posting Komentar