Halaman

Sabtu, 21 November 2015

Hari Yang Tidak Terlupakan

HARI YANG TIDAK TERLUPAKAN
            Pagi itu mentari pagi menampakkan dirinya, perlahan-lahan naik dan menyinari bumi dengan cahaya sinarnya. Randy membuka matanya yang sipit lalu terbangun dari tidurnya karena terpaan cahaya dari celah jendela yang menyilaukan matanya. Ia pun terbangun dan bergegas berangkat ke sekolah. Ketika Randy belum sampai di sekolah tiba-tiba hal yang tak terduga pun datang. Ban motornya ternyata bocor, ia lalu mencari tempat tambal ban. Tetapi sayangnya tidak ada tempat tambal ban disekitar situ. Randy menuntun motornya sambil mencari tempat tambal ban. Akhirnya ia menemukan tempat tambal ban di dekat sekolah.
            Sampai ke sekolah dengan badan penuh keringat akibat menuntun motornya, ternyata ia terlambat masuk sekolah. Dengan kesal Randy pergi ke kantor piket untuk meminta surat ijin masuk kelas yang berarti pointnya pun dikurangi karena telah terlambat masuk sekolah tadi.
            Sesampainya di kelas “Randy selamat pagi, sudah siap untuk remedi ulangan matematika?” Tanya Pak Puji guru matematikanya. “Emm, belum Pak.”. Randy menjawab dengan takut, karena dia tahu hari itu remidi matematika dan dia belum belajar sama sekali. Pada saat remidi, Randy pun hanya bisa berpasrah karena tidak mengerti cara mengerjakannya.
            Setelah pusing akibat matematika, pelajaran olah raga dimulai. Olah raga adalah pelajaran yang ditunggu-tunggu oleh Randy. Sial nya pelajaran olah raga kali ini melelahkan karena pelajarannya membahas tentang kebugaran jasmani. Selesai mengikuti pelajaran pada jam istirahat Randy merasa badannya hamper remuk karena kelelahan karena olah raga tadi. “Randy makan yuk!” kata teman disebelahnya. “Oke, kuambil makan di dalam tas ku ya!” kata Randy. Setelah ia mengambil makanannya dia semakin kesal karena tahu bahwa ia tidak membawa sendok, akhirnya ia pun memutuskan makan dengan tangannya karena lelah untuk mengambil sendok di kantin..
            Hari sial tidak berhenti sampai di situ. Latihan futsal yang di tunggu-tunggunya menjadi latihan yang panjang dan membosankan. Akibat pelajaran kebugaran tadi badannya letih untuk bermain futsal. “Randy, main dengan benar. Jangan seperti itu!” kata pelatihnya dengan kesal “Maaf pak. Gara-gara kecapekan pelajaran olah raga tadi,” kata Randy membenarkan. “Jangan cari alasan, sana keluar dari lapangan kamu diganti anak yang lain saja,” kata pelatih dengan tegas. Randy dengan kesalnya keluar dari lapangan dan digantikan dengan anak yang lain. Latihan futsal yang di tunggu-tunggunya tidak sesuai harapan dan kacau balau.
            Sesampainya di rumah ia pun beristirahat sejenak sebelum mandi. Ketika hendak mandi ia dikagetkan oleh Mamanya “Randy, sini Mama mau ngomong,” kata Mamanya. “Ada apa Ma?” jawab Randy ogah-ogahan “Randy, kan minggu depan kamu libur, kamu bisa bantu mama? Kita akan ikut travelling ke luar negeri kamu mau ikut?” tanya Mama dengan nada yang seperti yang tadi.” APA TRAVEL KE LUAR NEGERI? Mama ga bohong kan?” tanya Randy dengan nada senang. “Ngapain juga Mama bohong,” kata Mama dengan senang karena tahu reaksi anak nya senang. 
            Dengan senangnya Randy pun mandi. Hari sial yang di alaminya dari tadi pagi hingga tadi terganti dengan kejutan yang tidak terduga olehnya. Ia pun mengambil bahwa kesialan bukan lah akhir dari segala nya. Melainkan ada rencana Tuhan yang indah di dalamnya. Ia pun menyesal karena mungkin saja hari sial itu bila ia syukuri maka tidak akan menjadi hari yang sial yang pernah ada. Dan rencana indah Tuhan akan hilang akibat kemarahannya karena kesialan yang satu-satu muncul di depannya.



Dibuat oleh Yulishia Prasetio

Kelas/No: XII IPS 1/ 31

Tidak ada komentar:

Posting Komentar