Halaman

Jumat, 20 November 2015

Sahabat

Aku ingin bercerita tentang seseorang yang sangat perhatian padaku. Aku akui memang aku memiliki rasa suka padanya. Tapi sayangnya dia hanya melihat aku dari sisi sahabat dan tidak lebih dari itu. Dia bersikap baik karena kita sahabat. Saat aku kedinginan dia dengan sigap memakaikanku dengan jaket tebalnya. Dengan sigap menutupiku dengan handuk saat kita berenang, dengan sigap menggandeng tanganku saat keadaan ramai agar aku tidak kehilangan dia. Tapi mungkin saja aku salah paham dengan apa yang dilakukannya padaku. Aku mengira dia perhatian padaku karena dia menyukaiku. Hmm, tidak. Dia memang menyukaiku bukan karena ada hati untukku. Tapi karena memang aku sahabatnya.
Dia pernah bercerita banyak tentang masa lalunya yang mungkin bagi dia menyedihkan. Keadaan keluarga dan semuanya. Aku pernah mendengarkan dia bagaimana dia patah hati, bagaimana dia bekerja di berbagai kantor bagaimana dia suka makan ini dan apa yang dia benci aku tahu semua. Hanya saja itu sebatas sahabat. Ya sahabat. dia yang ku kenal masih beberapa bulan yang lalu dikarenaknan kita masuk di kampus yang sama.
Dan saat yang tepat waktu itu ada seorang teman perempuan yang ternyata dia juga suka padanya. Dan menceritakan semua kepadaku kalau dia menyukainya. Aku spechless karena dia kira aku sangat mengejarnya. Tapi memang benar aku mengejarnya, hanya saja keadaan nggak akan berubah kepadaku. Aku hanya bisa mendengarkan curhatan perempuan itu dengan jantung yang hampir meledak. Karena semua ceritanya sama yang aku alami.
Apa memang pada semua perempuan dia menceritakan kehidupannya. Apa dia ingin dikasihani? pasti tidak kan. Aku hanya berpikiran positif, mungkin aku bukan tempat curhat yang tepat bagi dia. Dan akhirnya aku memberanikan diri mengungkapkan rasa sukaku padanya. Dan pada akhirnya tidak ada jawaban serius darinya. Keadaan tetap nggak akan berubah, aku selalu jadi sahabatmu. Baiklah terima kasih sahabat, kau memberikanku kenangan dan masa-masa yang menyenangkan. Kau bisa membuatku tersenyum dan juga menangis. Dan sampai sekarang aku tidak pernah bertemu dengannya.
Cerpen Karangan: Atikah DS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar