''MY FIRST LOVE
DILEMA''
Siapa
yang tak kenal sosok evelyn? Evelyn adalah sosok siswi idaman disekolahnya. Ia
memiliki postur tubuh bak seorang pramugari, disamping itu ia juga memiliki
ciri fisik yang mendukung penampilannya. Evelyn memiliki kulit yang putih, mata
belo, hidung mancung, serta rambut panjang lurus yang indah. Disamping itu
evelyn juga memiliki kepribadian yang baik. Tak salah jika ia memiliki banyak
teman, dan menjadi wanita idaman disekolah.
Banyak
sekali teman lawan jenisnya yang ingin lebih mengenal sosok evelyn, tetapi
masih belum ada yang membekas dihati evelyn. Hingga evelyn bertemu dengan leon,
yang mampu menggoreskan sebuah kesan mendalam saat pertama kali bertemu. Evelyn
bertemu dengan leon saat dikantin, leon tak sengaja menumpahkan minuman
diseragam evelyn. "aduhh maaf, aku tidak sengaja" kata leon dengan
nada menyesal. "tidak apa-apa, ini bisa dibersihkan kok. Hanya noda
kecil" kata evelyn santai, disertai seulas senyum dibibirnya. "sorry
banget ya, aku gak sengaja tadi. kalau nodanya susah hilang besok kasih bajunya
ke aku aja ya evelyn*sambil liat nametag diseragam evelyn* dikelas 12 ipa 3,
biar aku laundry " kata leon dengan nada menyesal sambil menawarkan untuk
melaundrykan baju evelyn. "oo gausa repot-repot kak, kan sudah kubilang
ini hanya noda kecil. Dicuci pasti nodanya sudah hilang kok kak, hihihi. Hmm
aku balik kelas duluan ya kak, mari" kata evelyn lembut disertai ulasan
senyum. "oo iya iya" kata leon.
Sejak
tragedi itu, jika mereka bertemu mereka selalu memberikan sebuah senyuman atau
saling sapa "say Hello". Lalu, tak lama kemudian mereka akrab. Saling
bertukar kontak. Dan chattingan.
Tak
lama perkenalan yang tak disangka dan singkat itu saling mendekatkan mereka,
yang dulunya tak pernah mengenal menjadi saling mengenal satu sama lain. Serta
selalu memberikan kabar satu sama lain. Evelyn merasakan perasaan nyaman,
nyaman jika bersama leon. Tapi tak tau apakah leon juga merasakan hal yang sama
dengan evelyn? Saling merasakan perasaan nyaman itu.
Hari-hari
mereka berlalu dengan indah. Hingga akhirnya leon juga dekat dengan sosok
wanita lain. Wanita itu sepantaran dengan leon, tidak seperti evelyn yang hanya
adik kelas. Evelyn mulai merasakan perasaan cemburu. Perhatian leon juga sudah
mulai berkurang kepada evelyn. Rela tak rela, mau tak mau, evelyn harus
merelakan membagi perhatian leon untuk wanita itu. Evelyn sadar jika ia tak
berhak marah ataupun protes ke leon jika perhatiannya berkurang, karna evelyn
bukan siapa-siapa leon.
Evelyn
bimbang dengan perasaan yang ia rasakan kepada leon. Ia mencoba mencurahkan
segala isi hatinya kepada leon. Evelyn juga memberikan pilihan untuk leon, leon
harus memilih salah satu diantara kedua wanita ini. Leon pun bimbang, ia tak
bisa memilih salah satu diantara kedua wanita tersebut. Leon sama-sama
merasakan nyaman jika dekat dengan kedua wanita itu. Leon juga memberitau
kepada evelyn, jika ia akan melanjutkan program studynya diluar negeri,
amerika.
Evelyn
bingung, apa yang harus ia lakukan. Ia tak mau jika hubungannya menggantung, diambang
ketidakpastian. Disisi lain ia juga sedih, jika leon harus pergi meninggalkan
indonesia dan dirinya untuk melanjutkan program studynya. Evelyn tau,ini
pilihan leon, ini impian leon yaitu study di amerika. Dengan berat hati, evelyn
mulai menjauhi leon secara perlahan. Ia tak mau terlalu merasakan rasa sakit
jika harus ditinggalkan oleh leon.
Hubungan
mereka pun tak seakrab yang lalu. Leon tau ini pilihan evelyn, dengan berat
hati leon menghargai keputusan evelyn untuk menjaga jarak dengannya. Leon juga
tak ingin jika evelyn merasakan rasa sakit yang begitu mendalam jika ia pergi
meninggalkan evelyn. Sejak saat itu mereka sudah jarang chattingan, memberikan
kabar, serta jarang mengucapkan "say Hello". Mereka seperti tak
pernah mengenal satu sama lain. Mereka merasakan ada rasa canggung diantara
mereka jika mereka bertemu.
Hingga
saat-saat menyedihkan itu tiba. Detik-detik dimana leon harus meninggalkan
evelyn. Evelyn pun ikut keluarga leon untuk mengantarkan leon ke bandara.
Evelyn diam seribu bahasa, tak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir
evelyn. "lyn.. Aku tau kamu marah sama aku. Aku juga gak bisa ngelarang
kalau kamu marah sama aku, itu hak kamu. Tapi mau sampe kapan kamu kayak gini?
Diem seribu bahasa. Yaudalah, aku cuma mau bilang makasih ke kamu, untuk
semuanya yang pernah kita lakuin bersama. Aku tau ini semua gak adil bagi kamu.
Tapi gimana lagi, ini mimpi aku, aku pingin ngelanjutin studyku diluar. Trus
untuk perasaan yang lalu, aku tetep merasaakan perasaan yang sama, perasaan aku
ke kamu gak akan berubah. Kamu yang rajin juga, sekarang udah kelas 12 harus
lebih rajin lagi, gak boleh nakal" kata leon ke evelyn sambil memeluk
evelyn. Evelyn tetep gabisa berkata apa-apa, seketika ia jatuh dalam pelukan
leon. Hanya cucuran air mata evelyn yang mampu mengartikan perasaan evelyn
sekarang. Ia tak mau lepas dari pelukan leon. "udah sampe kapan kamu mau
nangis terus? Sini.." kata leon lembut sambil melayangkan ciuman dikening
evelyn. "udah jangan nangis lagi, ntar tambah jelek loh. Hmm aku pergi
dulu ya, jaga diri kamu baik-baik daaa..." kata leon lembut kepada evelyn
lalu pergi meninggalkan evelyn dan keluarganya.
Sejak
saat itu, evelyn sadar bahwa sebenarnya leon juga memiliki perasaan yang sama
dengannya. Hubungan leon dengan wanita itu hanya sebatas teman gak lebih, rasa
sayang leon hanya untuk evelyn seorang. Jarak tidak dapat memisahkan mereka
berdua. Karna, kunci hubungan jarak jauh hanyalah kepercayaan dan komunikasi.
Evelyn dan leon tetap menjaga hubungan dengan menyempatkan untuk chatting
ataupun telepon.
Yemima
Aprilia U
XXI
IPS I / 30