Halaman

Minggu, 06 Desember 2015

Cinta Yang Bersemi di Media Sosial

CINTA YANG BERSEMI DIMEDIA SOSIAL
Cinta? Pertama kali aku mengetahui apa itu cinta itu berasal darinya, namaku Yuli Prayumi biasa di panggil Yuli. Awal pertama aku mengenalnya yaitu 2 tahun lalu tepatnya tahun 2012. Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Pertama kali mengenalnya berawal dari media sosial yang sedang populer pada saat itu yaitu Blackbrry Massager.
Kisah ini berawal dari hobiku yang sering sekali memasang foto game dan anime (kartun atau animasi buatan Jepang), jarang sekali aku memasang foto sendiri karena pada saat itu kamera depan belum terlalu populer. Ketika aku memasang foto untuk sekian lama, dialah orang pertama yang mengchat aku “Hai kalau boleh tau kamu siapa ya?” katanya. Berawal dari chatnya kita pun saling berkenalan, ternyata dia satu sekolah denganku dan lebih tua 2 tahun namanya Roy Satria. Setelah seminggu berchat ria dengannya, dia mengajakku jalan-jalan. Awalnya aku ingin menolak ajakkannya tetapi karena komik keluaran terbaru sudah terbit sekalian saja aku jalan-jalan dengannya itu pikirku.
Karena itu pertama kalinya aku jalan-jalan berdua dengan cowok, akupun jadi pendiam kalau dia tak bertanya aku tak bersuara. Akhirnya setelah mendapatkan komik yang inginku beli karena senangnya aku jadi banyak berbicara. Diapun tertawa “Ngapain sih koko ketawa-ketawa nggak ada yang lucu deh?” tanyaku penasaran. “Ada deh hehehehe” jawabnya dengan nada tertawa. Setelah jalan-jalan dia mengajakku makan, selama menunggu makanan dia tiba-tiba memberikan kotak hitam “Ini buat lu Yul, suka nggak?” katanya hati-hati. Aku yang kaget melihat kotak itu lalu melihat isi didalamnya, ternyata terdapat gelang dan jam tangan berbentuk tengkorak yang aku sukai, “Eh koko nggak usah repot-repot, nggak usah koko ni ku kembalikan.” kataku dengan sopan. “Buat kamu kok nggak apa-apa, kalau kamu nggak mau nanti ku buang aja.” katanya dengan serius. Karena aku tidak enak dengannya akhirnya akupun menerima hadiahnya. Selesai makan kitapun jalan-jalan lagi menunggu aku dijemput, dan ternyata tidak ada yang bisa menjemputku. Akhirnya diapun mengantarkan aku pulang padahal jarak antara rumahku dengan rumahnya terbilang sangat jauh.
Selama diperjalanan dia pun membuatku kaget lagi dengan pertanyaan “Yul aku suka kamu. Mau nggak kamu jadi pacarku?” saking bingungnya dan kaget akupun tak dapat berkata-kata. “Maaf banget tiba-tiba kalau kamu masih bingung jawabnya nggak usah sekarang kok.” katanya kaget karena aku diam terlalu lama. “Nggak-nggak kok koko cuma lagi mikir, hehehehe maaf koko sebelumya aku nggak bisa jawab sekarang mungkin 2 hari lagi aku pikirkan masak-masak.” akhirnya setelah sampai di rumah aku pun mengucapkan terima kasih.
2 hari berlalu sejak kejadian itu dia sering chat menanyakan macam-macam, dia membuatku nyaman. “Koko soal pertanyaan koko waktu itu, aku mau kok jadi pacar koko.” Kujawab pertanyaannya didalam chat. “Beneran ni Yul? Yessss” jawabnya di chat. Setelah sekian lama aku menjalani hubungan dengannya sebagai pacar dia mengajariku akan indahnya cinta dan membuat hariku berwarna.
Setiap hari kalau ada waktu luang karena sekolah yang sama kitapun sering bertemu. Teryata sifat dia yang over protecrive terhadapku tiap bertemu dia selalu bertanya dan meminjam handphoneku. Karen hobiku yang suka bermain game dan memiliki kenalan cowok yang banyak itu membuatnya sebal “Yul ini sapa? Dia kenal kamu dari mana?” itulah kata-kata yang sering dia ucapkan tiap membongkar chat di handphoneku. Sebisanya aku menahan emosi akhirnya akupun tak tahan lagi.
Setelah 3 minggu menjalani hubungan ini, akupun mengakhirinya karena sifatnya yang membuatku tidak nyaman jauh berbeda dengan sikapnya dulu yang membuatku merasa nyaman berada didekatnya. Besoknya aku putuskan untuk mengatakannya.
“Koko terima kasih untuk selama ini.” kuchat dia karena tidak dapat bertemu dengannya. “Hah? Ada apa Yul? Kok tiba-tiba chat gini?” balasan chatnya. “Menurutku kita akhiri saja hubungan ini, aku merasa kurang cocok dengan koko itu saja. Terima kasih untuk hari-hari yang menyenangkan ini koko.” Balasku dengan kesedian karena walaupun demikian aku tetap menyayanginya. Dia pun tak membalasku lagi hanya membaca chat itu, mungkinkah dia bersedih atau marah aku tak tahu.
Aku jalani hari-hariku seperti dulu tanpa dirinya, cinta yang berawal karena media sosial dan berakhir pula disana. Aku hanya dapat mendoakan dia mendapatkan pengganti diriku dihatinya yang terbaik sehingga dapat menyembuhkan luka dihatinya yang disebabkan oleh diriku.

                                                                                                                     
Dibuat oleh: Randy Alvin Istanto Putra

Kelas/No absen: XII IPS 1/ 22

Tidak ada komentar:

Posting Komentar